Senin, 30 April 2018

SEJARAH DAN CERITA DESA MOJOPURO WETAN BUNGAH GRESIK



SEJARAH DAN CERITA DESA MOJOPURO WETAN

 BUNGAH GRESIK


          Ada beberapa versi tentang sejarah desa Mojopurowetan. Disisni kami tidak membicarakan benar tidaknya versi tersebut. Justru perbedaan pendapat tersebut akan menambah khasanah cerita tentang desa di tepian Sungai Bengawan Solo ini.

          Ada yang menyebut nama Mojopuro diambil dari nama Kyai Mojowulung seorang ulama penyebar agama Islam di desa Mojopurowetan dan sekitarnya. Ada juga yang menyebut nama Mojopuro berasal dari kata “Muja  Pura”. Bahkan konon sebelum nama Mojopuro popular di masyarakat sebelumnya bernama desa Maspunten (emas berlian). Semua jika hubung-hubungkan dengan peninggalan-peninggalan yang ada di desa Mojopurowetan saai ini memang ada kaitannya.

          Alkisah sebelum masuknya islam di Pulau Jawa, Mojopurowetan adalah daerah komunitas Agama Hindu. Bukti sejarah terdapatnya dua arca Dwarapala (konon terbesar di Indonesia) terdapai di desa ini. Satu sudah hancur dan satu lagi masih utuh dan “diambil” tim purbakala dan saat ini ditempatkan di musium Trowulan, Mojokerto.

          Menurut keterangan tim purbakala Trowulan, Mojokerto, Untuk mengurangi pengaruh Islam yang berpusat di kerajaan Demak, Mojopuro yang merupakan salah satu pintu gerbang wilayah utara kerajaan Majapahit yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan kerajaan Demak, sengaja dibuat suatu komunitas Hindu. Disitu dibangun sebuah pura  yang dijaga oleh dua buah arca dwarapala ukuran besar. Karena sebagai tempat pemujaan itulah masyarakat menyebutnya “Muja Pure”. Atau muja puro, yang akhirnya menjadi Mojopuro yang artinya memuja pura.

          Karena sebagai tempat komunitas agama Hindu, banyak peninggalan-peninggalan yang ada kaitannya dengan kesenian atau kebudayaan Hindu. Konon ada satu tempat (kampung) yang juga berdekatan dengan ditemukannya arca dwarapala bernaka kampung Gali Gambang. Menurut cerita sesepuh setempat, dulu banyak warga masyarakat yang secara tidak sengaja membuat pondasi rumah tiba-tiba menemukan seperangat gamelan (gambang) yang terbuat dari emas. Karena seringnya menemukan gambang emas itulah banyak warga yang melakukan penggalian-penggalian dengan harapan menemukan emas atau perhiasan lainnya. Akhirnya kampung tersebut dinamai kampung gali Gambang. Dan mana desa Mojopuro saat itu bernama Mas-Punten atau mas permata. Entah sejak kapan berubah nama menjadi Mojopuro. Tahun berapa pastinya tidak ada yang berani memastikan.
          Versi lain menceritakan Bahwa Nama Mojopuro diambil dari nama depan Ki Ageng Mojowulung atau kyai Mojowulung, penyebar agama Islam di desa Mojopurowetan dan sekitarnya. Menurut cerita Bapak Mahmudi, yang saat ini menjabat sekretaris desa Mojopurowetan, saat itu kyai Mojowulung bersama kakak perempuannya bernama Nyi Ageng lanjar Kuning atau Nyi Lanjar Kuning  datang di desa ke dukuh Maspunten (Mojopuro) untuk menyebarkan agama Islam. Dengan kesabaran dan kegigihan beliau akhirnya agama Islam berkembang dengan pesat. Untuk menghormati jasa beliau akhirnya nama dukuh Maspunten diganti dengan nama Dukuh Mojopuro Dikenal Dengan Nama Mbah Ngabar.


Sejak mendirikan sebuah padepokan sebagai pusat komunitas dan belajar agama Islam, lanjut Bapak mahmudi, yang menurut pengakuannya mendapat cerita dari orang tuanya yang kebetulan juga dulu menjabat pamong desa,   nama Kyai Mojo Wulung semakin terkenal. Dari ajaran dan wejangan yang diberikan beliau, banyak masyarakat yang simpatik dan tertarik mempelajari dan memeluk agama Islam. Dari kegigihan Beliau mensi’arkan agama Islam, akhirnya banyak masyarakat memberikan julukan Mbah Ngabar, yang asal mula dari kata kabar atau si’ar Sampai saat ini  nama Mbah Ngabar melekat dihati masyarakat.


          Beliau akhirnya meninggal dan dimakamkan  di desa Mojopurowetan  Nama Mbah Ngabar selalu melekat di hati masyarakat, bahkan setiap tanggal 1 Muharom  warga desa yang 100 % warganya beragama Islam ini selalu mengadakan peringatan wafatnya beliau yang biasa disebut khoul Mbah Ngabar.

GAMBARAN UMUM DESA MOJOPUROWETAN

          Desa Mojopurowetan secara geeografi terletak disebelah utara Kabupaten Gresik. Dengan jarak tempuh kurang lebih 25 km dari kota Gesik. Didukug infrastruktur yang sangat memadai, Desa Mojopurowetan gampang mengakses derap ekonomi kota Gresik.

          Luas wilayah desa Mojopurowetan 196,624 ha dan terletak ditengah-tengah lintasan kecamatan Bungah dan kecamatan Dukun. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Melirang dan sebelah Barat berbatasan dengan desa Mojopurogede. Sedang bagian Selatan Berbatasab dengan Kabupaten Lamongan yang dibelah Sungai Bengawan Solo sedang bagian Utara  berbatasan dengan wilayah kecamatan Dukun.

          Penduduk Mojopurowetan berjumlah 2.863 jiwa atau 471 KK  dan  bermatapencaharian terbagi dibeberapa sector seperti  petani tambak dan petani kebun, pedagang, buruh tani, buruh pabrik, peternak ayam potong dan sebagian berprofesi sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri dan wiraswasta. Tidak ada yang dominan dalam angka matapencahariannya. Hingga tidak bisa disebutkan sebagian besar, tapi rata-rata.  

          Tahun 2005 desa Mojopurowetan masuk dalam klasifikasi desa merah. Sebab dari 471 KK, 352 KK masuk dalam katagori prasejahterah.   


NARASUMBER :
Nama   : H. M. Chulalan Abd. Halim
Umur   : 55 Tahun
Jabatan       : Kepala Desa






SEJARAH DESA DAN CERITA DESA PEGUNDAN BUNGAH GRESIK


SEJARAH DESA DAN CERITA DESA PEGUNDAN 
BUNGAH GRESIK




Hasil gambar untuk gapura pegundan bungah



            Sejak zaman dahulu hingga tahun 1900 telah terbentuk kelompok masyarakat di suatu tempat terpencil yang jauh dari keramaian yaitu terletak disebelah utara desa pegundan yang sekarang menjadi tambak (Ganjaran Desa). Kelompok tersebut terdiri dari orang-orang yang mempunyai kesamaan dalam hal pekerjaan sehari-hari yaitu ternak sapi dan kerbau. M,ereka datang dari b eberapa desa tetangga diantaranya desa ngablak (Raci Wetan), dusun Grogol, Kemangi dan Abar Abir. Kehidupan masyarakat pada saat itu masih bebas, tidak ada aturan adat atau aturan desa yangn bersifat mengikat dan belum terbentuk pemerintahan desa.
            Karena letak daerahnya tergolong dataran rendah, tidak heran jika sering terjadi banjir sehingga banyak yang berkeinginan untuk berpindah tempat kedataran yang lebih tinggi. Sehingga pada tahun 1937, salah seorang yang dihormati pada saat itu, Pak Tasrib beserta tokoh masyarakat lainnya mengambil gagasan mengajak orang-orang untuk berpindah ketempat yang sekarang ini menjadi desa Pegundan.

            Pegundan sebenarnya bukan nama asli yang diberikan oleh orang-orang terdahulu. Nama asal yang diberikan mereka pada saat itu adalah KEBONDANG (Kebo Kandang) yaang berarti tempat pemeliharaan kerbau. Namun karena kesalahan penulisan oleh pihak pemerintah pada saat itu sewaktu mendaftar nama-nama desa yang berada di kecamatan Bungah, dan masyarakat belum menmgerti arti pentingnya sebuah nama dalam sejarah, maka hal tersebut tetap dibiarkan dan berlaku hingga sekarang.

            Terbentuknya pemerintahan desa diawali sejak perpindahan tempat dan yang di percaya untuk memimpin desa pada saat itu adalah Pak Tasrib. Beliau mengawali tugasnya pada tahun 1937 dan berakhir pada tahun 1945. diakhir tugas pak Tasrib, sering tejadi persioalan di desa diantaranya,. Sering terjadfi penjarahan, mengamuknya tentara penjajah hingga membuat tiga warga desa tertembak. Sehingga pak Tasrib tidak sanggup lagi memimpin desa dan mengajak masyarakat untuk merncari pimpinan baru. Maka terpilihlah Pak Karyo sebagai kepala desa pegundan pada tahun 1945.

            Masa kepemimpinan pak karyo tidak berlangsung lama, yaitu hanya lima tahun. Beliau meninggal sebelum masa jabatannya, yaitu tahun 1950 danm telah di ganti untuk sementara oleh Pak Faqih  meneruskan masa jabatan selama tiga tahun. Setelah masa jabatan Pak  Faqih berakhir, pada tahun 1953 diadakan pemilihan kepala desa baru, dimana pada saat itu yang terpilih adalah Pak Sa’il. Beliau bertugas selama tujuh tahun sembilan bulan dan meninggal pada tahun 1960 sebelum habis masa jabatannya. Selama tiga bulan berlangsung, yang menjabat sebagai kepala desa sementara adalah Pak Samir. Kemudian pada tahun 1960 diadakan pemilihan kepala desa, dimana pada saat itu muncul beberapa calon diantaranya; Paka H. Amir, Pak H. Ridlo’i, Pak Abdul Mu’in. ketiganya merupakan orang-orang yang terpandang pada saat itu dan masing-masing merupakan calon yang sama-sama kuat. Namun karena faktor kerluarga yang sangat banyak, maka yang terpilih sebagai kepala desa pegundan yaitu Pak Abdul Mu’in.

            Pak Abdul Mu’in menjabat sebagai kepala desa selama tiga puluh tahun yaitu dari tahun 1960 hingga tahun 1990. Jasa-jasa beliau ketika menjabat sebagai kepala desa adalah; terbangunnya madrasah Ibtidaiyah Al-Falahiyah, SDN, dan waduk.
            Kemudian pada tahun 1990 hingga tahun 1998 yang menjabat sebagai kepala desa adalah Pak Nurul Yaqin.  Sejak pemerintahan dipegang Pak Nurul Yaqin, terjadi perubahan yang cukup pesat baik dari segi pola pikir masyarakat maupun gaya hidup mereka. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya; adanya listrik masuk desa (LMD), pengusaha cina masuk desa (PCMD), munculnya beberapa warung kopi disekitar desa, dll. Jasa-jasa beliau selama menjabat sebagai kepala desa antara lain; pembangunan saluran limbah, bantuan IDT, bantuan ala-alat petani miskin, dan lat-alat nelayan miskin.

            Pada tahun 1998 hingga sekarang yang menjabat sebagai kepala desa pegundan adalah bapak Muhammad Idham. Beliau menjabat dua kali periode, dan jasa-jas beliau selama menjabat sebagai kepala desa diantaranya; pembangunan jalan Pavingan kuang lebih satu kilo meter, pengurukan makam, pembangunan jalur irigasa kurang lebih dua ratus lima puluh meter, bedah rumah, wakil Kabupaten untuk Lombah P2WKSS dan sekarang sedang membangun Gapura Desa yang di perkirakan mengahabiskan biayah kurang lebih seratus lima puluh juta rupiah.

Di susun KPMD Desa Pegundan
Sumber sejarah : Sesepuh Desa :
1. Bapak H. Abu Amar
2. Bapak H. Amir ( 127 th )
3. Bapak Ahyar
4. Bapak Ilyas
5. Arsip Desa





Narasumber :
Nama         : H. Abu Amar
Umur         : 72 tahun

Jabatan      : Tokoh Agama

SEJARAH DAN CERITA DESA RACI WETAN BUNGAH GRESIK


SEJARAH DAN CERITA DESA RACI WETAN 
BUNGAH GRESIK

Desa raci Wetan sebelum masa pemerintahan Demang Danipa berada di Raci Delanyar sedangkan di Raci Wetan sendiri dulunya dikenal dengan nama Desa Ngablak. Sehingga pada saat itu Demang Danipa adalah salah seorang yang bertempat tinggal di Desa Ngablak, ketika beliau diangkat menjadi Demang maka yang dulunya bernama Ngablak menjadi Raci Wetan. Karena disebabkan Demang yang dulunya bertempat tinggal di Desa Ngablak dan akhirnya menjadi desa Raci Wetan.

Pada masa pemerintahan Bupati Raden Badrun pada tahun 1910 M. belanda mulai melancarkan strategi barunya. Lalu raden badrun dipindahkan ke Jombang, kemudian sidayupun dirubah kedudukannya menjadi satuan wilayah yang lebih rendah yaitu kawedanan. Belanda juga menempatkan lurah (Demang) hanya untuk loyalitas dirinya. Adanya dukungan belanda sebagai satuan wilayah yang kecil dengan Raja kecil-kecilnya pula. Kata raci merupakan kemerdekaan raja-raja kecil dan pada masa itu bermunculan nama-nama raci dan salah satunya adalah Raci Wetan. Menurut cerita tokoh desa Raci Wetan, konon desa tersebut dipimpin oleh salah seorang raja kecil yang bernama Sumitro Joyo Negoro. Kepemimpinan raja-raja kecil ditingkat desa/kelurahan tersebut. Secara berurutan raja-raja kecil tersebut :
1.      Sumitro joyo negoro
2.      Demang Lengket
3.      Demang Sindu Putih
4.      R. Masharyo Kusumo Cipto Wiryo
Dengan munculnya beberapa nama Raci :
-          Sebelah selatan anak kali solo bagian wetan (timur), diberi nama Raci Wetan  dan merupakan bagian wilayah bungah.
-          Di sebelah utara anak kali solo bagian tengah diberi nama Desa Raci Tengah dan merupakan wilayah bagian Sidayu.
-          Di sebelah utara anaka kali solo bagian kulon (barat), di beri nama Desa Raci Kulon dan merupakan dari wilayah Sidayu.
Suatu ketika ada seorang yang bernama Kanjeng Sepuh yang sedang lewat disebelah utara anak kali solo, beliau mengatakan bahwa daerah yang dilewati tersebut merupakan daerah/wilayah Sidayu.
Kemudian dimasa pemerintahan Kanjeng Sepuh selama (39 th). Selalu menentang dengan orang-orang belanda, sehingga belanda merasa takut dan tidak berani menekan rakyat terutama daerah sidayu. Setelah itu beliau meninggal pada tahun 1856 M.
Masyarakat desa Raci Wetan kala itu merasakan dalam hidupnya kurang aman dan merasa terganngu oleh para perampok dan lainnya. Dan pada saat itu hidupnya berpencar dan berpindah-pindah, pada suatu ketika ada seorang yang berani menempati desa tersebut dan merasa aman dan tidak merasa terganggu lagi oleh para perampok dan lainnya, akhirnya semua warga yang dulunya berpencar-pencar dan berpindah-pindah menjadi kumpul kembali di Desa Raci Wetan.



Sumber Data :
Bpk. H. Munawar Bin Madarib Bin H. Thohir ( Kaur Kesra )

Serta dilengkapi oleh Moh. Alfan Bin Ahmad Aly ( Ustadz )

SEJRAH DAN CERITA DESA SIDOKUMPUL BUNGAH GRESIK


SEJRAH DAN CERITA DESA SIDOKUMPUL
 BUNGAH GRESIK


1. Sejarah Desa Sidokumpul Bungah Gresik

Setiap Dea atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan ciri khas dari suatu daerah sejarah desa atau daerah sering kali tertuang dalam dongeng – dongeng yang diwariskan secara turun temurun dari mulut kemulut sehingga sulit untuk dibuktikan dan tidak jarang dihubungkan dengan mitos tempat – tempat tertentu yang dianggap keramat. Desa Sidokumpul Bungah Gresik memiliki latar belakang tersebut yang tertuang dalam kisah – kisah berikut ini :

Pak Pantes (Ngatmin) sebelumnya jumlah Desa ynag sebelah utara berjumlah 25 rumah dan yang sebelah timur sejumlah 20 rumah kemudian dianjurkan oleh undera dijadikan 1 dengan nama Sidokumpul asalnya Mindi dan Dondong tahun 1967 mulai jadi. H. Musthofa mulai menjabad sebagai kepala Desa Tahun 1935 sampai tahun 1989 setelah itu di PJS H. Ridwan selama 6 Bulan Tahun 1990 M. Umar mulai Tahun 1990 – 2007 kemudian di PJSkan ke M.Umar Tahun 2007 Syaiful Arif diangkat masyarakat menjadi Kepala Desa.

Desa Sidokumpul Bungah Gresik, sebenarnya dulu pada zaman penjajahan kerajaan Sunan Giri kedaton terdiri dari 2 desa :
1 (satu) Desa Dondong dan 2 (dua) Desa Mindi dengan 2 Kepala Desa. Sampai pada penjajahan belanda, tepatnga pada Bulan Agustus Tahun 1940 berubah menjadi Desa Sidokumpul Bungah Gresik, menurut sejarah yang memberi nama desa “ Dondong dan Mindi” adalah tokoh masyarakat bernama “ H. Abdullah Said ” (Mabah Celoreng) beliau adalah utusan Sultan Giri Kedaton ( Raden Ainul Yaqin), dinamakan Desa Dondong karena sudah banyak Rumah dan dimungkinkan besok suatu saat akan banyak Gedung – gedung.

Sedangkan Desa Mindi itu masih jarang sekali rumah dan banyak yang mempunyai keahlian Misalnya : Tabib, dengan bukti “ Sangkal Putung “, Dukun Beranak, Ahli Obat DLL.

Pada suatu saat H. Abdullah Said , membuat surau di desa Dondong di RT 01, beliau seorang tokoh agama Islam dan pandai Besi  ahli Kanuragan (Ilmu Kesaktian). Oleh karena itu beliau disebut orang pintar/ Cikal bakal pendiri desa Sidokumpul. Beliau hidup bersama istrinya bernama “ Nyai Siti Saimah ”  kemudian istrinya meninggal dan dimakamkan di Desa Sidokumpul, sedangkan Raden H. Abdullah Said meninggal dan meminta dimakamkan di timur Jalan Raya (Abar – Abir) atau sering disebut dengan Mbah Celoreng sampai sekarang dikeramatkan sehingga didatangi banyak peziarah yang tentunya memiliki tujuan dan maksud tersendiri.




II. Asal Usul (Legenda) Desa
Dari berbagai sumber terpenting dapat ditelusuri dan di gali asal usul desa Sidokumpul Bungah Gresik yang cukup bervariatif tetapi dapat ditarik benang merah yang dapat dipercaya sebagai asal muasal terjadinya Desa Sidokumpul Bungah Gresik yang dapat diceritakan dari legenda – legenda yang berasal dari Desa Sidokumpul Bungah Gresik serta legenda tentang “MBAH CELORENG ” beliau adalah Utusan Sultan Giri Kedaton (RADEN AINUL YAQIN0 yang sampai sekarang makamnya yang terletak di dusun Abar – abir dikeramtkan sehingga didatangi banyak penziarah yang tentunya memiiki tujuan dan maksud tersendiri.

Setelah kami mencari cerita – cerita tentang legenda Hama Desa Dondong dan Mindi akhinya kami menemukan cerita dari orang – orang desa bahwa Desa Dondong dan Mindi itu (membutuhkan penafsiran jauh ke depan) diantara sumber – sumber yang kami dapat di desa antara lain :
1.            Bahwa di desa dondong besok banyak rumah – rumah gedung / rumah mewah
2.            Nama Desa Dondong menurut bahasa jawa singkatan dari “ DONGE GEDONG ” yang artinya pada suatu saat di Desa Dondong itu akan di huni oleh masyarakat yang beraneka ragam dari beberapa kalangan.

Asal usul di desa Mindi ceritanya ada Thabib yang Mandi sehingga ada orang yang mengatakan “MINDI MANDI” yang artinya orang Mindi ilmunya Mandi (Mujarab)
Dengan suatu bukti cerita dulu ada orang mindi yang menemukan Cupu ynag ada minyaknya, pada suatu saat ada orang gelakar / menbajak sawah yang lahan perkebunan. Kelakarnya (bahasa jawa) singkal mesinya ternyata patah tidak bisa dibuat untuk mengoles sawah perkebunanmya kemudia singkal mesinnya dioles oleh minyak yang ada dalam cupu tersebut. Akhirnya “ Cupu”itu dimanfaatkan oleh anak cucunya dengan turun temurun untuk dapat mengobati orang yang sakit “ Patah Tulang “ ternyata orang yang pateh Tulang itu diberi Allah Kesembuhan akhirnya terkenla dengan sebutan “SANGKAL PUTUNG “.

III. Sejarah pemerintahan Desa sidokumpul Bungah Gresik

Sehak tebentuknya atau berdirinya desa Sidokumpul bungah Gresik pada tahun 1940 yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa pada posisi sekarang sudah pada generasi Kepala desa yang ke Tujuh. 
1.      Kepala Desa Bapak Rukun
2.      Kepala Desa Bapak Pantes
3.      Kepala Desa Bapak Pantes
4.      Kepala Desa Bapak Pantes
5.      Kepala Desa Bapak H. Mustofa pada tahun 1935 – 1988
6.      Kepala Desa Bapak Umar Lazim pada tahun dua priode 1988 – 2006

7.      Kepala Desa Bapak  Moh. Syaiful Arif  31 Maret – Sekarang

  

IV. Sejarah pembangunan Desa Sidokumpul
Pembangunan di desa Sidokumpul dapat kami catat pembangunan dalam beberapa era kepemimpinan Kepala Desa yang masing – masing memiliki hal – hal yang menonjol dan tertulis dalam dokumen Desa Sidokumpul Bungah Gresik, diantarnya :

Masa Kepemimpinan Bapak Moh. Umar Lazim (1988 – 2006)
1.      Pembagunan Bali Desa
2.      pemavingan Jalan
3.      Sumur Bor
4.      Perluasan Makam
5.      Pembelian Untuk tanah kas Desa
6.      Pendirian RAM NU 150
7.      Bantuan langsung tunai

Masa Kepemimpinan Bapak Syaiful Arif  (2007 – Sekarang)
1.      Renovasi bangunan bali Desa
2.      pemavingan Jalan
3.      penambahan sarana Sumur Bor
4.      Pengentasan / kesejahteraan masyarakat miskin (GARDU TASKIN)
5.      Pavingisasi jalan menuju poros Desa Sidokumpul JPD
6.      Dana SPP Kelompok Desa PKK
7.      Pembangunan GEDUNG PAUD – PNPM PPK
8.      Dana SPP Desa Sidokumpul – PNPM PPK


Nama      : H.M JAIS, SH
Umur      : 55 Tahun
Jabatan   : Tokoh Masyarakat - BPD



SEJARAH PEMERINTAHAN DESA SIDOMUKTI BUNGAH GRESIK


SEJARAH PEMERINTAHAN DESA SIDOMUKTI

Setiap desa atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan cirri khas dari suatu daerah. Sejarah desa atau daerah seringkali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun-temurun dari mulut-kemulut sehingga sulit untuk dibuktikan dan tidak jarang dihubungkan dengan tempat-tempat tertentu yang dianggap Kramat.
Sehubungan tidak adanya sesepuh desa, maka sejarah desa sidomukti tidak dapat kita paparkan dengan luas, hanya sekilas yang dapat diketahui.
Sejak terbentuknya desa sidomukti merupakan daerah yang dipimpin oleh kepala desa. Desa sidomukti terdiri dari 5 dusun yaitu :
1.      Dusun Pucang.
2.      Dusun Mulyosari, dusun ini dulu namanya dusun Gepeng.
3.      Dusun Pakuwon.
4.      Dusun Prubungan.
5.      Dusun Kiring.
6.      Dusun Tegal Sari. Untuk mengurangi kepadatan penduduk, banyak warga yang mendirikan rumah tegalan sehingga dinamakan Tegal Sari.
Tiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun. Sebagai penghormatan terhadap layanan mereka terhadap masyarakat, desa menyediakan beberapa petak sawah( tanah bengkok) yang diberikan kepada mereka untuk diambil manfaatnya selama menjabat. Kepala dusun (bahu) juga dibantu oleh wakil kepala dusun (bayan), mereka juga memperoleh tanah bengkok.
Dari masa berdiri sampai sekarang, desa sidomukti mengalami beberapa pergantian kepala desa. Adapun nama-nama yang dapat kami tulis, yaitu :
  1. Karngun.
  2. Ahmad Zaini, 1995.
  3. Rif’an Zaini, 1995-2000.
  4. Ahmad Efendy, 2000- sekarang.
Adapun pembangunan yang dilaksanakan di desa sidomukti merupakan swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah.



Narasumber Sejarah :

Nama               : Marlan
Umur               : 80 Tahun
Jabatan            : Sekretaris Desa

SEJARAH SINGKAT DESA SIDOREJO BUNGAH GRESIK

SEJARAH DAN CERITA  DESA SIDOREJO
 BUNGAH GRESIK


Dahulu desa Sidorejo bernama Wantilan. Penduduknya banyak bertempat tinggal di pesisir Bengawan Solo. Sebagian dari penduduknya adalah warga keturunan Cina. Wantilan termasuk salah satu daerah yang dituju oleh Kiai Qomaruddin (pendiri PP. Qomaruddin) untuk dijadikan sebuah pesantren, tetapi tidak mendapat izin dari sosok makhluk halus yang menyerupai buaya putih. Konon kalau Mbah Qomaruddin (panggilan Kiai Qomaruddin) mendirikan pesantren di wilayahnya, maka satu per satu santrinya akan dijadikan korban oleh buaya putih. Akhirnya beliau mengurungkan niatnya dan mendirikan pesantrennya di Sampurnan Bungah.

Karena wilayah Wantilan berada di pesisir Bengawan Solo, sementara perkembangan pembangunan pemerintah daerah ditempatkan pada wilayah utara desa Wantilan maka satu demi satu warga yang bertempat tinggal di pesisir Bengawan Solo  pindah ke bagian utara yang kondisi tanahnya lebih tinggi. Sampai pada akhirnya, banyak sekali warga Wantilan yang membuat rumah di utara yang tanahnya merupakan wilayah desa Masangan dan desa Melirang.

Desa Wantilan penduduknya yang masih tetap tinggal di pesisir Bengawan Solo akhirnya dapat dihitung dengan jari. Berbagai alasan penduduk sangat kuat untuk pindah ke dataran yang lebih tinggi karena menghindari banjir yang datang setiap tahun. Karena sudah banyak yang pindah, akhirnya dibuatlah nama di pemukiman yang baru itu dengan nama Sidorejo. Kata Sidorejo diambil dari bahasa Jawa. Sido berarti jadi dan Rejo berarti ramai. Sesuai dengan namanya, Sidorejo menjadi ramai dan banyak warga baru yang yang di luar desa Wantilan berbondong-bondong untuk bertempat tinggal di desa Sidorejo.
Desa Wantilan berganti nama desa Sidorejo. Seperti yang diharapkan pembuat nama tersebut, ramailah desa kecil tersebut yang sampai saat ini penduduknya tidak kurang dari 300 kepala keluarga yang tersebar di dua pedukuhan yakni Sidorejo Barat dan Sidorejo Barat (Wringinuwok).

Batas Desa Sidorejo sebelah barat  dan utara wilayahnya berbatasan dengan desa Melirang dan sebelah timur berbatasan dengan desa Masangan, sementara sebelah selatan berbatasan dengan Bengawan Solo. Sampai saat ini produk yang diunggulkan oleh desa Sidorejo adalah gamping ( bahan baku kapur untuk bangunan ).


CHOTIB umur 64 tahun yang tinggal di Sidorejo RT. 03 RW. 01 Bungah Gresik 61152

SEJARAH DESA DAN LEGENDA DESA SUKOREJO BUNGAH GRESIK


SEJARAH DESA DAN LEGENDA DESA SUKOREJO 
BUNGAH GRESIK


A.  Sejarah Desa Sukorejo
            Dari beberapa desa atau pun daerah pasti mempunyai sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminanan dari karakter dan cirri khas dari suatu daerah sejarah desa atau daerah sering kali tentang dalam dongeng yang diwariskan secara turun temurun dari mulut kemulut sehinggah sulit utuk dibuktikan dan tidak jarang  dihubungkan denggan mitos di tempat –tempat tertentu yang dianggap keramat desa sukorejo memiliki latar belakang tertentu yang tertuang dalam kisah berikut.

B. Asal Usul(Legenda lemah  delik
Bermula dari keraton surokerto pada abat kurang lebih 14 –15 ada seorang  putra raja yang ingin melihat dan dan memenui putri ayu mengare. Agar tidak ketauan putra raja menyamar menjadi seekor ular dan dikawal oleh hujan ,sehingga jalan yang dilalui membentuk kali / sungai yang sekarang dinamakan sungai solo / bengawan solo
Dalam perjalanamnya  sang ular terlena oleh kecantikan putri melirang. Sehinga dia lupa akan tujuannya semula dan ular pun sampai dimuara sungai.
Karena malu sang ular pun tak mau kembali ke keraton akhirnya dan akhirnya bertapa di muara sungai tersebut
Setelah lama tidak kembali maka sang raja mengutus panglima mudanya yakni yang bernama pangeran ibnu sukarso untuk mencari keberadaan putrahnya yang menyamar menjadi seekor ular untuk menemui putri ayu mengare.
Setelah lama mencari dan tidak ketemu maka pangeran ibni sukarso sampai pada suatu tempat.dan bertemu dengan seorang guru yang munpuni ilmu dibidang agama dan pada akhirnya pangeran ibnu sukarso berguru pada orang tersebut . beliau adalah Maulana umar malik alakbar yang sekarang dikenal dengan Mbah ngabar dan beliau mempunyai beberapa murit diantaramurit beliau adalah pangeran ibnu sukarso ,kiai gede morobakung.kanjeng sepuh  sedayu dll
Setelah lama berguru pangeran ibnu sukarso memutuskan untuk tingal didaera tersebut dan beliau juga menjadi menantu maulana umar kholik al akbar mendapat putri satu -satunya itu yang bernama umi zulaiha.paeran ibnu sukarso dan umizulaiho mempunya 3 putra :  1.gunadi wirso
            2.wati wongso
            3.aminatus saada
  dan pada tahun 1516 sang guru sekaligu mertua dari pangeran ibnu sukarso meningal dunia dan padepokannya dilanjutkan oleh pangeran ibnu sukarso.padepokan tersebut bernama ngabar,nama ngabar sendiri diambil dari kata ngabar ngabar no (memberi tahu) dan akbar (besar) secara adminiteratif wilaya perdikan dan berbatas dengan wilaya indero delik dan bedanten.pada akhirnya paneran ibnu sukarso dan keluarganya memperluas wilayanya dengan jalan menyapu mengunakan sapulidi yang dahasa jawanya ngerek (nyapu)
kemudian daerah tersebut bernama kerek. Pada waktu pemerintan hindu budah dibentuklah pemerintaan desa yang bernamadesa lemah delik dalam desa lemah delik ada dua wilaya yaitu palemaan dan kerek.

C. Asal usul nama desa sukorejo
            Desa sukorejo terletak disebelah timur ibu kota kecamatan bungah dan sebelah utara utara aliran sungai solo atao bengawan solo dengan iklim  curah hujan dengan jalan lima bulan musim hujan.desa sukorejo terletak diketinggian 3 meter dengan laras bentang wilayahnya darat nama desasikorejo mempuyai arti suko (seneng ) rejo (rame)makna dari sukorejo adalah seneng dengan keramaian atau dengan kemajuan yang dahulunya delek dan keterbelakangan sesuai dengan nama desa yang lama yaitu lemah delik pada masa pemerintaan kepala desa bapak H.Munir desa lemah delik diganti menjadi desa sukorejo karena desa lemah delik ada dua wilayah yaitu kerek dan palemaan yang mempunyai dua faham yang berbeda sehingga sering terjadi perselisisan yang tak kunjung selesai  maka pemerintan desa menyatukandua wilaya tersebut kerek dan paleman menjadi menjadi satu wilyah yang sering terkenal dengan nama desa sukorejo dan perudahan desa sukorejo direstui oleh KH.soleh mustofa selaku sesepuh dan kiayi diwilayah bungah .

C.  Legenda Nama Desa Sukorejo
           
            Dalam beberapa tahun yang lalu sampai saat ini desa sukorejo sudah mengalami pergantian kepala desa sabanyak delapan  kali yakni sebagai berikut
1.      Periode kepemimpinan Nor Salem                   …...   - 1915
2.      Periode kepemimpinan Durakit                      1926  - 1934
3.      Periode kepemimpinan Sugio                         1935  - 1940
4.      Periode kepemimpinan Karto  Kardi              1941  - 1954
5.      Periode kepemimpinan H.Munir                     1955  - 1954
6.      Periode kepemimpinan Khusnan                    1964  - 1989
7.      Periode kepemimpinan H. Hasan Basori        1990 -  2007
8.      Periode kepemimpinan Drs.Suatmo                2007

E. Sejarah Pembangunan Desa Sukorejo
            Pembangunan didesa sukorejo dapat di catat dalam beberapa era kepemimpinan yang masing - masing memiliki hal – hal yang  menonjol diantaranya:
a.       Masa kepemimpinan Karto Kardi
?   Pelestarian  kesenian tradisonal
b.      Masa  kepemimpinan H. Munir
?   Memberantas kemaksiatan
?   Pembukaan jalan tembus dari dusun kerek ke dusun palemaan di                                                                                                 tengah – tengah desa bedaten.
?   Perombakan masjid dari kayu menjadi tembok.
c.   Masa kepemimpinan Khusnan
?   Pembangunan Balai Desa, Swadaya dan Pemerintah
?   Pindahnya SDN sukorejo yang bertempat di bungah di ganti ke Desa     Sukorejo
? Mempererat Kesatuan masyarakat
d.      Masa kepemimpinan H. Hasan Baseri
?   Pembukaan jalan poros dasa bungah ke bedaten (pemerintah daerah)
?   Pafingisasi seluruh desa sukorejo (swadaya dan pemerintah )
?   Pertanian /irigasi (swadaya dan pemerintah daerah)
?   Perehapan balai desa (swadaya )
?   Pengecoran jalan poros desa menuju ngabar (suadaya)
e.       Masa kepemimpinan Drs. suatmo
?   Pengadaan air bersih (swadaya dan pemerintah )
?   Pafingisasi Jl pangkuon indah (pemerintah dan suadaya )


NARASUMBER
Nama      : Farhan
Umur      : 30 Tahun
Jabatan    : Tokoh Pemuda / Perangkat Desa

 
 

sejarah desa dan cerita desa sekec bungah

PROFIL DESA WATUAGUN BUNGAH GRESIK

 PROFIL DESA WATUAGUNG  BUNGAH GRESIK II.     VISI DAN MISI 2.1.     Visi Mewujudkan kesejahtraan sosial Ekonomi Masyarakat B...